GLITTER

Self-Love dalam Hubungan Antar Manusia

January 12 2019, 5:57:07 pm | Glitter

Gimana sih pengaruhnya self-love terhadap sikap kita kepada orang lain? Here's my opinion

Hi internet friends,

It's me again.

Di kesempatan kali ini, berbeda dari tulisan minggu lalu, saya gak akan membahas soal episode terbaru dari Self-Love Activity, melainkan sebuah konsep dari Self-Love itu sendiri dan perannya dalam melahirkan cinta tanpa syarat dalam sebuah hubungan antar manusia.

Sejak saya intens melakukan self-care challenge (as you can see on my Instagram post this month), saya jadi lebih aware lagi terhadap makna dari self-love itu sendiri.

Saya merasa belakangan ini, saya kerap menemui banyak orang yang membahas soal self-love. I don't know why tapi hampir setiap hari saya selalu melihat postingan atau apapun itu di sosial media yang berkaitan dengan self-love.

Bahkan orang-orang besar, terkenal, yang bisa dibilang sukses pun sadar akan pentingnya self-love. Mereka berpendapat kalau self-love itu penting dan jadi salah satu cara untuk sukses. Termasuk dalam hal hubungan percintaan.

Saya juga mendapat inspirasi tentang konsep self-love dari salah satu role model saya: Alamanda Syantika-yang juga aware soal mengenai hal ini.

...

Self-Love itu bisa dimulai dengan mengenalnya dari hal yang lekat dalam hidup kita sehari-hari: Agama. Dalam agama Islam, kita mengenal hari raya idul adha. Di mana hari raya ini menjadi peringatan peristiwa qurban saat Nabi Ibrahim bersedia mengorbankan putranya untuk Allah, namun sembelihan itu digantikan oleh-Nya dengan domba.

Apa yang bisa dipelajari dari kisah Ibrahim? Ikhlas melepaskan apa yang kita punya di dunia ini. Yang pada akhirnya mendorong kita untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan diri sendiri (sebagaimana Tuhan ada dalam diri kita.)

Di sinilah akan mulai lahir self-love: upaya untuk mendekatkan diri kepada diri sendiri, mengenal diri sendiri, dan tentunya mencintai diri sendiri.

Caranya, memperlakukan diri dengan sangat baik, mendengarkan apa kata diri sendiri, menaruh diri sendiri sebagai prioritas, tidak menyakiti diri sendiri, berusaha mengenal diri sendiri, melakukan segala hal dengan penuh kesadaran, dan body positivity (menerima tubuh apa adanya.)

Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang sudah komplit. Lengkap dan sempurna. Ketika makhluk sempurna ini bertemu dengan manusia lain, self-love itu diaplikasikan melalui interaksi seperti saat melakukan self-love kepada diri sendiri.

Ngobrol dengan orang lain layaknya kita ingin diajak ngobrol, memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan, dan kita gak bakal menyakiti orang lain seperti kita gak ingin menyakiti diri sendiri.

...

Dalam hubungan asmara antara 2 orang yang saling mencintai, self-love itu amat sangat membantu sih buat menyelesaikan berbagai masalah dalam hubungan. Bahkan ketika kita mau move on dari mantan sekalipun.

Hubungan tanpa masalah adalah nihil di dunia ini. Semua dan dengan siapapun kita berhubungan, pasti ada kok masalah yang muncul. Entah masalah kecil ataupun besar.

Ketika seorang manusia yang sudah komplit, sadar dan telah melakukan self-love, kemudian ia bertemu dengan satu orang lainnya yang melakukan hal yang sama, pasti tetap ada kesenjangan yang timbul.

Misalnya, terlalu berekspektasi lebih kepada pasangan, cara melakukan self-love yang berbeda versinya, ketidaksempurnaan satu sama lain, kekurangan-kekurangan diri sendiri, ego yang sama-sama kuat, dsb.

Nah, di sinilah permulaan manusia yang komplit itu sedikit merasa tidak komplit. Karena adanya kekurangan sekaligus kelebihan dari masing-masing individu yang pada akhirnya membuat kalian sama-sama merasa kurang namun berusaha untuk memperbaiki diri.

Begitulah makna dari cinta tak bersyarat dan hubungan yang sehat yang saya tarik garisnya dari hal sesederhana self-love.

Sampai jumpa di obrolan soal self-love selanjutnya :)

Berbagi Yuk!