GLITTER

Self-Love Activity Episode 1: Main Sama Kucing

January 12 2019, 5:15:07 pm | Glitter

Self love activity kali ini bercerita tentang betapa menyenangkannya bermain dengan kucing

Dulu di belakang rumah kami terdapat sebuah rumah berukuran tiga kali tiga meter. Sebuah pintu tua dan tiga buah jendela usang dipasangkan di masing-masing sisi ruangan.

Semuanya terbuat dari kayu, termasuk tangga kecil di samping pohon belimbing untuk menuju ke sana. Bapak yang membuatkannya. Dan kami menyebut rumah itu “Rumah Pohon”.

Rumah Pohon bisa jadi tempat apa saja: bermain, menyimpan layangan, bersantai, tidur-tiduran, termasuk menjadi tempat bermain bersama kucing kesayangan saya hingga mereka beranak-pinak.

Tempat itu selalu menyenangkan, dan hampir setiap hari saya menghabiskan waktu di sana. Sampai akhirnya suatu ketika, saat saya ingin bermain bersama kucing-kucing saya di rumah pohon, ada kejadian tak enak.

Di depan pintu tua itu, saya menemukan seekor anak kucing mati dengan leher berdarah dan meninggalkan bekas gigitan. Sontak saya langsung balik badan dan mengurung diri di kamar sambil menangis. Sejadi-jadinya. Sesengukan. Seperti kehilangan sahabat.

Itulah pengalaman pertama saya kehilangan kucing. Betapa ngerinya. Betapa sedihnya hati saya saat itu. Saat usia saya masih satu digit.

...

Sejak kecil, saya sudah dikenalkan untuk mencintai hewan kesayangan Rasulullah tersebut. Ternyata sudah bertahun-tahun saya hidup beriringan dengan beragam hewan berbulu ini.

Gak jarang Bapak pulang membawa kucing baru yang ditemukan di jalan atau dikasih orang. Senangnya bukan main.

Kucing di rumah kami jadi berganti-ganti. Mulai dari kecil, besar, sakit, mati, hingga hilang entah ke mana. Warnanya pun beragam, kuning, kuning putih, abu-abu, dan banyak lagi.

Mereka semua diberi nama: Lowhite (yellow & white), Abu, Juliet, Elsa, Bebeb, WTJ (warna tak jelas), Bantet, Lazy, Siti, Boy, Coro, Snowy, dan terbaru ini, Ucup namanya. Tapi ada juga yang no name.

Di rumah kami tidak pernah ada kandang untuk kucing. Semuanya dibebaskan lepas di dalam rumah bahkan tidur bersama.

Saat tak di rumah, saya juga beberapa kali mengadopsi kucing. Tapi mereka harus dikandang dan itu justru membuat saya stres karena saya terus memikirkan waktu bermain mereka.

Di situ saya merasa gak bisa mengurung kucing karena itu sama saja dengan menyiksa hewan. Sama halnya dengan mengandangi burung. Kucing dikenal ampuh sebagai penghilang stres. Tapi bagi saya, harus mengandangi hewan justru bikin saya stres.

Setiap jogging, bukannya berbekal air minum, saya justru membawa sebotol cat food. Jadi ketika menemukan kucing di jalan, saya akan berhenti untuk memberinya makan.

Itulah mengapa saya bercita-cita untuk punya rumah dengan halaman yang cukup luas biar bisa jadi tempat tinggal sementara bagi kucing-kucing yang terlantar. Semoga keinginan ini segera tercapai. Doakan ya teman-teman.





Berbagi Yuk!